Popular Post

Posted by : DHS Channel Only Wibu Sabtu, 01 Februari 2014

Kali ini D.H.S akan berbagi Ilmu Tentang Sejarah Kerajaan-Kerajaan pada Masa Hindu-Buddha di Indonesia langsung aja kepembahasannya :


1.  Kerajaan Kutai
Bicara  soal  perkembangan  Kerajaan  Kutai,  tidak  lepas  dari
sosok  Raja  Mulawarman.  Kamu  perlu  memahami  keberadaan
Kerajaan  Kutai,  karena  Kerajaan  Kutai  ini  dipandang  sebagai

kerajaan  Hindu-Buddha  yang  pertama  di  Indonesia.
Kerajaan Kutai diperkirakan  terletak di daerah Muarakaman di  tepi  Sungai
Mahakam, Kalimantan Timur. Sungai Mahakam merupakan sungai
yang  cukup besar dan memiliki beberapa anak  sungai. Daerah di
sekitar  tempat  pertemuan  antara  Sungai Mahakam  dengan  anak
sungainya  diperkirakan  merupakan  letak  Muarakaman  dahulu.
Sungai  Mahakam  dapat  dilayari    dari  pantai  sampai  masuk  ke
Muarakaman,  sehingga  baik  untuk  perdagangan.  Inilah  posisi
yang  sangat menguntungkan untuk meningkatkan perekonomian
masyarakat.  Sungguh  Tuhan  Yang  Maha  Esa  menciptakan  alam
semesta dan tanah air Indonesia itu begitu kaya dan strategis. Hal
ini perlu kita syukuri.
 Untuk memahami perkembangan Kerajaan Kutai  itu,  tentu
memerlukan  sumber  sejarah yang dapat menjelaskannya. Sumber
sejarah Kutai yang utama adalah prasasti yang disebut yupa, yaitu
berupa  batu  bertulis.  Yupa  juga  sebagai  tugu  peringatan  dari
upacara kurban. Yupa ini dikeluarkan pada masa pemerintahan raja
Mulawarman. Prasasti yupa ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa
sanskerta. Dengan melihat bentuk hurufnya, para ahli berpendapat
bahwa yupa dibuat sekitar abad ke-5 M.
  Yang menarik  dalam  prasasti  itu  juga  disebut  nama  kakek
Mulawarman yang bernama Kudungga. Kudungga berarti penguasa
lokal,  dan  yang  setelah  terkena  pengaruh  Hindu-Buddha  daerah
tersebut  berubah  menjadi  kerajaan.  Namanya  tetap  Kudungga
berbeda dengan nama puteranya yang bernama Aswawarman dan 67 Sejarah Indonesia
cucunya yang bernama Mulawarman. Oleh karena itu yang terkenal
sebagai wamsakerta adalah Aswawarman. Coba pelajaran apa yang
dapat kita peroleh dengan persoalan nama di dalam satu keluarga
Kudungga itu?
  Satu di antara  yupa  itu memberi  informasi penting  tentang
silsilah  Raja  Mulawarman.  Diterangkan  bahwa  Kudungga 
mempunyai  putra  bernama  Aswawarman.  Raja  Aswawarman
dikatakan seperti Dewa Ansuman  (Dewa Matahari). Aswawarman
mempunyai  tiga  anak,  tetapi  yang  terkenal  adalah Mulawarman.
Raja Mulawarman dikatakan sebagai raja yang terbesar di Kutai. Ia
pemeluk agama Hindu-Siwa yang setia. Tempat sucinya dinamakan
Waprakeswara.  Ia  juga  dikenal  sebagai  raja
yang sangat dekat dengan kaum brahmana dan
rakyat.  Raja  Mulawarman  sangat  dermawan.
Ia mengadakan  kurban  emas dan 20.000  ekor
lembu  untuk  para  brahmana.  Oleh  karena
itu,  sebagai  rasa  terima  kasih  dan  peringatan
mengenai  upacara  kurban,  para  brahmana
mendirikan sebuah yupa.
  Pada  masa  pemerintahan  Mulawarman,  Kutai  mengalami  
zaman  keemasan.  Kehidupan  ekonomi  pun  mengalami
perkembangan.  Kutai  terletak  di  tepi  sungai,  sehingga                             
masyarakatnya  melakukan  pertanian.  Selain  itu,  mereka  banyak
yang melakukan perdagangan. Bahkan diperkirakan  sudah  terjadi
hubungan  dagang  dengan  luar.  Jalur  perdagangan  internasional
dari  India melewati  Selat Makassar,  terus  ke  Filipina  dan  sampai
di  Cina.  Dalam  pelayarannya  dimungkinkan  para  pedagang  itu
singgah terlebih dahulu di Kutai. Dengan demikian, Kutai semakin
ramai dan rakyat hidup makmur.

2.  Kerajaan Tarumanegara
  
 Sejarah  tertua  yang  berkaitan  dengan  pengendalian  banjir
dan sistem pengairan adalah  pada masa Kerajaan Tarumanegara.
Untuk  mengendalikan  banjir  dan  pertanian  yang  diduga  di
wilayah Jakarta saat ini, maka Raja Purnawarman menggali sungai
Candrabaga.  Setelah  selesai melakukan  penggalian  sungai maka
raja mempersembahkan 1.000 ekor lembu pada brahmana. Berkat
sungai itulah penduduk Tarumanegara menjadi makmur. Siapakah
Raja Purnawarman itu?
   Purnawarman  adalah  raja  terkenal  dari  Tarumanegara.
Perlu  kamu  pahami  bahwa  setelah  Kerajaan  Kutai  berkembang
di  Kalimantan  Timur,  di  Jawa  bagian  barat  muncul  Kerajaan
Tarumanegara.  Kerajaan  ini  terletak  tidak  jauh  dari  pantai  utara
Jawa bagian Barat. Berdasarkan prasasti-prasasti  yang ditemukan
letak pusat Kerajaan Tarumanegara diperkirakan di antara Sungai
Citarum dan Cisadane. Kalau mengingat namanya Tarumanegara,
dan kata  taruma mungkin berkaitan dengan kata  tarum yang artinya
nila. Kata tarum dipakai sebagai nama sebuah sungai di Jawa Barat,
yakni  Sungai  Citarum.  Mungkin  juga  letak  Tarumanegara  dekat
dengan  aliran  Sungai  Citarum.  Kemudian  berdasarkan  Prasasti
Tugu, Purbacaraka memperkirakan pusatnya ada di daerah Bekasi.
  Sumber sejarah Tarumanegara yang utama adalah beberapa
prasasti  yang  telah  ditemukan.  Berkaitan  dengan  perkembangan
Kerajaan  Tarumanegara,  telah  ditemukan  tujuh  buah  prasasti.
Prasasti-prasasti  itu  berhuruf  pallawa  dan  berbahasa  sansekerta.
Ketujuh prasasti itu adalah :
1.  Prasasti Ciareteun
  Prasasti  ini  ditemukan  di  tepi  Sungai  Citarum  di  dekat
muaranya  yang mengalir  ke  Sungai Cisadane, di daerah
Bogor. Pada prasasti ini dipahatkan sepasang telapak kaki
Raja Purnawarman.70 Kelas X
2.  Prasati Kebon Kopi
  Prasasti  Kebon  Kopi  ditemukan  di  Kampung  Muara
Hilir,  Kecamatan  Cibungbulang,  Bogor.  Pada  prasasti  ini
ada  pahatan  gambar  tapak  kaki  gajah  yang  disamakan
dengan tapak kaki gajah Airawata (gajah kendaraan Dewa
Wisnu).
3.  Prasasti Jambu
  Prasasti  ini  ditemukan  di  perkebunan  Jambu,  Bukit
Koleangkok, kira-kira 30 km  sebelah barat Bogor. Dalam
prasasti  itu  diterangkan  bahwa  Raja  Purnawarman  itu
gagah,  pemimpin  yang  termasyhur,  dan  baju  zirahnya
tidak dapat ditembus senjata musuh.
4.  Prasasti Tugu
  Prasasti  Tugu ditemukan di Desa  Tugu, Cilincing  Jakarta.
Prasasti  ini  menerangkan  tentang  penggalian  saluran
Gomati  dan  Sungai  Candrabhaga.  Mengenai  nama
Candrabhaga,  Purbacaraka mengartikan  candra  =  bulan
=  sasi.  Candrabhaga  menjadi  sasibhaga  dan  kemudian
menjadi Bhagasasi - bagasi, akhirnya menjadi Bekasi.
5.  Prasasti Pasir Awi
  Prasasti Pasir Awi ditemukan di daerah Bogor.
6.  Prasasti Muara Cianten
  Prasasti Muara Cianten ditemukan di daerah Bogor.
7.  Prasasti Lebak
  Prasasti  Lebak  ditemukan  di  tepi  Sungai  Cidanghiang,
Kecamatan  Muncul,  Banten  Selatan.  Prasasti  ini
menerangkan  tentang  keperwiraan,  keagungan,  dan
keberanian Purnawarman sebagai raja dunia.
  Di samping beberapa prasasti tersebut, berita Cina juga dapat
dijadikan sumber sejarah Kerajaan Tarumanegara. Terutama berita
yang disampaikan oleh seorang musafr Cina yang bernama Fa-Hien
yang berkunjung ke Jawa. Ia telah menyebut adanya Kerajaan To-lo-
mo atau Taruma.
 Kerajaan Tarumanegara mulai berkembang pada abad
ke-5 M. Raja yang  sangat  terkenal adalah Purnawarman.  Ia
dikenal  sebagai  raja  yang  gagah  berani  dan  tegas.  Ia  juga
dekat dengan para brahmana, pangeran, dan rakyat.  Ia raja
yang  jujur,  adil,  dan  arif  di  dalam memerintah.  Daerahnya
cukup luas sampai ke daerah Banten. Kerajaan Tarumanegara
telah  menjalin  hubungan  dengan  kerajaan  lain,  misalnya
dengan Cina.
  Dalam  kehidupan  agama,  sebagian  besar masyarakat
Tarumanegara memeluk agama Hindu. Sedikit yang beragama
Buddha dan masih ada yang mempertahankan agama nenek
moyang  (animisme).  Berdasarkan  berita  dan  Fa-Hien,  di
Tolomo ada tiga agama, yakni agama Hindu, agama Buddha
dan  kepercayaan  animisme.  Raja  memeluk  agama  Hindu.
Sebagai bukti, pada prasasti Ciareteun ada  tapak   kaki  raja
yang  diibaratkan  tapak  kaki  Dewa  Wisnu.  Sumber  Cina
lainnya menyatakan bahwa, pada masa Dinasti T’ang terjadi
hubungan perdagangan dengan  Jawa. Barang-barang  yang
diperdagangkan adalah kulit penyu, emas, perak, cula badak,
dan  gading  gajah.  Penduduk    daerah  itu  pandai membuat
minuman keras yang terbuat dari bunga kelapa.
  Rakyat  Tarumanegara  hidup  aman  dan  tenteram.
Pertanian merupakan mata pencaharian pokok. Di  samping
itu, perdagangan  juga berkembang. Kerajaan Tarumanegara
mengadakan hubungan dagang dengan Cina dan India.

3.  Kerajaan Kalingga
  
 Ratu  Sima  adalah  penguasa  di  Kerajaan  Kalingga.  Ia
digambarkan  sebagai  seorang  pemimpin  wanita  yang  tegas  dan
taat terhadap peraturan yang berlaku dalam kerajaan itu. Kerajaan
Kalingga atau Holing, diperkirakan terletak di Jawa bagian tengah.
Nama  Kalingga  berasal  dari  Kalinga,  nama  sebuah  kerajaan  di
India  Selatan.  Menurut  berita  Cina,  di  sebelah  timur  Kalingga
ada  Po-li  (Bali  sekarang),  di  sebelah  barat  Kalingga  terdapat                                             
To-po-Teng  (Sumatra).  Sementara  di  sebelah  utara  Kalingga
terdapat Chen-la (Kamboja) dan sebelah selatan berbatasan dengan
samudera. Oleh karena  itu, Kalingga diperkirakan terletak di Jawa
Tengah, di Kecamatan Keling, sebelah utara Gunung Muria.
  Sumber  utama  mengenai  Kerajaan  Kalingga  adalah  berita
Cina, misalnya berita dari Dinasti T’ang. Sumber lain adalah Prasasti
Tuk Mas di  lereng Gunung Merbabu. Melalui berita Cina, banyak
hal yang kita ketahui tentang perkembangan Kerajaan Kalingga dan
kehidupan masyarakatnya. Kerajaan Kalingga berkembang kira-kira
abad ke-7 - ke-9 M.
  Raja yang paling terkenal pada masa Kerajaan Kalingga
adalah  seorang  raja  wanita  yang  bernama  Ratu  Sima.  Ia
memerintah  sekitar  tahun  674  M.  Ia  dikenal  sebagai  raja
yang tegas, jujur, dan sangat bijaksana. Hukum dilaksanakan
dengan tegas dan seadil-adilnya. Rakyat patuh terhadap semua
peraturan yang berlaku. Untuk mencoba kejujuran rakyatnya,
Ratu Sima pernah mencobanya, dengan meletakkan pundi-
pundi  di  tengah  jalan.  Ternyata  sampai  waktu  yang  lama
tidak ada yang mengusik pundi-pundi itu. Akan tetapi, pada
suatu  hari  ada  anggota  keluarga  istana  yang  sedang  jalan-
jalan, menyentuh kantong pundi-pundi dengan kakinya Hal
ini  diketahui  Ratu  Sima. Anggota  keluarga  istana  itu  dinilai
salah dan harus diberi hukuman mati. Akan tetapi atas usul
persidangan para menteri, hukuman  itu diperingan dengan 
hukuman potong kaki. Kisah  ini menunjukkan, begitu  tegas
dan  adilnya Ratu  Sima.  Ia  tidak membedakan  antara  rakyat
dan anggota kerabatnya sendiri.
  Agama  utama  yang  dianut  oleh  penduduk  Kalingga
pada umumnya Buddha. Agama Buddha berkembang pesat.
Bahkan  pendeta  Cina  yang  bernama  Hwi-ning  datang  di
Kaling dan tinggal selama tiga tahun. Selama di Kalingga, ia
menerjemahkan kitab suci agama Buddha Hinayana ke dalam
bahasa  Cina.  Dalam  usaha menterjemahkan  kitab  itu  Hwi-
ning dibantu oleh seorang pendeta bernama Jnanabadra.
  Kepemimpinan raja yang adil, menjadikan rakyat hidup
teratur,  aman,dan  tenteram.  Mata  pencaharian  penduduk
pada umumnya adalah bertani, karena wilayah Kalingga subur
untuk pertanian. Di samping  itu, penduduk  juga melakukan
perdagangan.
  Kerajaan  Kalingga  mengalami  kemunduran    
kemungkinan  akibat  serangan  Sriwijaya  yang  menguasai
perdagangan.  Serangan  tersebut  mengakibatkan
pemerintahan  Kijen menyingkir  ke  Jawa  bagian  timur  atau
mundur ke pedalaman Jawa bagian tengah antara tahun 742
-755 M.

4.  Kerajaan Sriwijaya

Sejak  permulaan  tarikh Masehi,  hubungan  dagang  antara,
India  dengan  Kepulauan  Indonesia  sudah  ramai.  Daerah  pantai
timur  Sumatra menjadi  jalur  perdagangan  yang  ramai  dikunjungi
para  pedagang.  Kemudian,  muncul  pusat-pusat  perdagangan
yang  berkembang  menjadi  pusat  kerajaan.  Kerajaan-kerajaan
kecil di pantai Sumatra bagian timur sekitar abad ke-7, antara lain
Tulangbawang, Melayu, dan Sriwijaya. Dari ketiga kerajaan itu, yang
kemudian berhasil berkembang dan mencapai kejayaannya adalah
Sriwijaya.  Kerajaan  Melayu  juga  sempat  berkembang,  dengan
pusatnya di Jambi.
  Pada tahun 692 M, Sriwijaya mengadakan ekspansi ke daerah
sekitar Melayu. Melayu  dapat  ditaklukkan  dan  berada  di  bawah
kekuasaan Sriwijaya.  Letak pusat Kerajaan Sriwijaya ada berbagai
pendapat. Ada yang berpendapat bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya
ada  di  Palembang,  ada  yang  berpendapat  di  Jambi,  bahkan  ada
yang  berpendapat  di  luar  Indonesia. Akan  tetapi,  pendapat  yang
banyak didukung oleh para ahli, pusat Kerajaan Sriwijaya adalah di
Palembang, di dekat pantai dan di tepi Sungai Musi. Ketika pusat
Kerajaan Sriwijaya di Palembang mulai menunjukkan kemunduran,
Sriwijaya berpindah ke Jambi.
  Sumber  sejarah  Kerajaan  Sriwijaya  yang  penting  adalah
prasasti.  Prasasti-prasasti  itu ditulis dengan huruf  Pallawa. Bahasa
yang dipakai Melayu Kuno. Beberapa prasasti itu antara lain sebagai
berikut.
1.  Prasasti Kedukan Bukit
  Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di  tepi Sungai Tatang,
dekat  Palembang.  Prasasti  ini  berangka  tahun  605  Saka
(683 M).  Isinya antara  lain menerangkan bahwa  seorang
bernama  Dapunta  Hyang  mengadakan  perjalanan  suci
(siddhayatra) dengan menggunakan perahu. Ia berangkat
dari Minangatamwan  dengan membawa  tentara  20.000
personil.
2.  Prasasti Talang Tuo
  Prasasti  Talang  Tuo  ditemukan  di  sebelah  barat  Kota
Palembang  di  daerah  Talang  Tuo.  Prasasti  ini  berangka
tahun  606  Saka  (684  M).  Isinya  menyebutkan  tentang
pembangunan  sebuah  taman  yang  disebut  Sriksetra.
Taman ini dibuat oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga.
3.  Prasasti Telaga Batu
  Prasasti Telaga Batu ditemukan di Palembang. Prasasti  ini
tidak  berangka  tahun.  Isinya  terutama  tentang  kutukan kutukan  yang  menakutkan  bagi  mereka  yang  berbuat
kejahatan.
4.  Prasasti Kota Kapur
  Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka, berangka
tahun  608  Saka  (656  M).  Isinya  terutama  permintaan
kepada para dewa untuk menjaga kedatuan Sriwijaya, dan
menghukum setiap orang yang bermaksud jahat.
5.  Prasasti Karang Berahi
  Prasasti  Karang  Berahi  ditemukan  di  Jambi,  berangka
tahun 608  saka  (686 M).  Isinya  sama dengan  isi Prasasti
Kota Kapur.Beberapa prasasti yang lain, yakni Prasasti Ligor
berangka tahun 775 M ditemukan di Ligor, Semenanjung
Melayu, dan Prasasti Nalanda di  India Timur. Di  samping
prasasti-prasasti  tersebut,  berita  Cina  juga  merupakan
sumber  sejarah  Sriwijaya  yang  penting.  Misalnya  berita
dari I-tsing, yang pernah tinggal di Sriwijaya.
Perkembangan Kerajaan Sriwijaya
  Ada beberapa faktor yang mendorong perkembangan
Sriwijaya antara lain :
a.  Letak geografs dari Kota Palembang. Palembang sebagai
pusat  pemerintahan  terletak  di  tepi  Sungai  Musi.  Di
depan  muara  Sungai  Musi  terdapat  pulau-pulau  yang
berfungsi  sebagai pelindung pelabuhan di Muara Sungai
Musi.  Keadaan  seperti  ini  sangat  tepat  untuk  kegiatan
pemerintahan dan pertahanan. Kondisi itu pula menjadikan
Sriwijaya sebagai jalur perdagangan internasional dari India
ke Cina, atau sebaliknya. Juga kondisi sungai-sungai yang
besar, perairan laut yang cukup tenang, serta penduduknya
yang berbakat sebagai pelaut ulung.
b.  Runtuhnya  Kerajaan  Funan  di  Vietnam  akibat  serangan
Kamboja.  Hal  ini  telah  memberi  kesempatan  Sriwijaya
untuk cepat berkembang sebagai negara maritim.
  Kerajaan  Sriwijaya  mulai  berkembang  pada  abad
ke-7. Pada awal perkembangannya,  rajanya disebut dengan
Dapunta  Hyang.  Dalam  Prasasti  Kedukan  Bukit  dan  Talang
Tuo  telah  ditulis  sebutan Dapunta Hyang.  Pada  abad  ke-7,
Dapunta Hyang banyak melakukan usaha perluasan daerah.
  Daerah-daerah  yang  berhasil  dikuasai  antara  lain
sebagai berikut.
a.  Tulang-Bawang yang terletak di daerah Lampung.
b.  Daerah Kedah yang terletak di pantai barat Semenanjung
Melayu.  Daerah  ini  sangat  panting  artinya  bagi  usaha
pengembangan  perdagangan  dengan  India.  Menurut
I-tsing,  penaklukan  Sriwijaya  atas  Kedah  berlangsung
antara tahun 682-685 M.
c.  Pulau Bangka yang terletak di pertemuan jalan perdagangan
internasional,  merupakan  daerah  yang  sangat  penting.
Daerah  ini  dapat  dikuasai  Sriwijaya  pada  tahun  686 M
berdasarkan Prasasti Kota Kapur. Sriwijaya juga diceritakan
berusaha  menaklukkan  Bhumi  Java  yang  tidak  setia
kepada Sriwijaya. Bhumi Java yang dimaksud adalah Jawa,
khususnya Jawa bagian barat.
d.  Daerah  Jambi  terletak di  tepi Sungai Batanghari. Daerah
ini  memiliki  kedudukan  yang  penting,  terutama  untuk
memperlancar  perdagangan  di  pantai  timur  Sumatra.
Penaklukan ini dilaksanakan kira-kira tahun 686 M (Prasasti
Karang Berahi).
e.  Tanah  Genting  Kra  merupakan  tanah  genting  bagian
utara  Semenanjung Melayu.  Kedudukan  Tanah  Genting
Kra sangat penting. Jarak antara pantai barat dan pantai
timur  di  tanah  genting  sangat  dekat,  sehingga  para
pedagang  dari  Cina  berlabuh  dahulu  di  pantai  timur
dan membongkar  barang  dagangannya  untuk  diangkut
dengan pedati ke pantai barat. Kemudian mereka berlayar ke India. Penguasaan Sriwijaya atas Tanah
Genting Kra dapat diketahui dari Prasasti
Ligor yang berangka tahun 775 M.
f.  Kerajaan  Kaling  dan  Mataram  Kuno.
Menurut berita Cina, diterangkan adanya
serangan dari barat, sehingga mendesak
Kerajaan Kaling pindah ke sebelah timur.
Diduga yang melakukan serangan adalah
Sriwijaya. Sriwijaya ingin menguasai Jawa
bagian tengah karena pantai utara Jawa
bagian  tengah  juga  merupakan  jalur
perdagangan yang penting.
  Sriwijaya terus melakukan perluasan daerah,
sehingga  Sriwijaya menjadi  kerajaan  yang  besar.
Untuk  lebih  memperkuat  pertahanannya,  pada
tahun  775 M  dibangunlah  sebuah  pangkalan  di
daerah Ligor. Waktu itu yang menjadi raja adalah
Darmasetra.
  Raja  yang  terkenal  dari  Kerajaan  Sriwijaya 
adalah  Balaputradewa.  Ia  memerintah  sekitar
abad  ke-9  M.  Pada  masa  pemerintahannya,
Sriwijaya berkembang pesat dan mencapai zaman
keemasan.  Balaputradewa  adalah  keturunan
dari  Dinasti  Syailendra,  yakni  putra  dari  Raja
Samarotungga  dengan  Dewi  Tara  dari  Sriwijaya.
Hal tersebut diterangkan dalam Prasasti Nalanda.
Balaputradewa  adalah  seorang  raja  yang  besar
di  Sriwijaya.  Raja  Balaputradewa  menjalin
hubungan  erat  dengan  Kerajaan  Benggala  yang
saat  itu  diperintah  oleh  Raja  Dewapala  Dewa.
Raja  ini menghadiahkan  sebidang  tanah  kepada Balaputradewa  untuk  pendirian  sebuah  asrama  bagi  para  pelajar
dan mahapeserta didik yang sedang belajar di Nalanda, yang dibiayai
oleh Balaputeradewa,  sebagai “dharma”. Hal  itu  tercatat dengan
baik dalam Prasasti Nalanda, yang saat ini berada di Universitas Nawa
Nalanda,  India.  Bahkan  bentuk  asrama  itu mempunyai  kesamaan
arsitektur dengan Candi Muara Jambi, yang berada di Provinsi Jambi
saat  ini. Hal  tersebut menandakan  Sriwijaya memperhatikan  ilmu
pengetahuan,  terutama pengetahuan agama Buddha dan bahasa
Sanskerta bagi generasi mudanya.
  Pada  tahun  990 M  yang menjadi  Raja  Sriwijaya  adalah  Sri
Sudamaniwarmadewa.  Pada  masa  pemerintahan  raja  itu  terjadi
serangan  Raja  Darmawangsa  dari  Jawa  bagian  Timur.  Akan
tetapi,  serangan  itu berhasil digagalkan oleh  tentara Sriwijaya. Sri
Sudamaniwarmadewa  kemudian  digantikan  oleh  putranya  yang
bernama  Marawijayottunggawarman.  Pada  masa  pemerintahan
Marawijayottunggawarman, Sriwijaya membina hubungan dengan
Raja  Rajaraya  I  dari  Colamandala.  Pada masa  itu,  Sriwijaya  terus
mempertahankan kebesarannya. Untuk mengurus setiap daerah kekuasaan Sriwijaya, dipercayakan
kepada seorang Rakryan (wakil raja di daerah). Dalam hal ini Sriwijaya
sudah mengenal struktur pemerintahan.
  Pada  mulanya  penduduk  Sriwijaya  hidup  dengan
bertani.  Akan  tetapi  karena  Sriwijaya  terletak  di  tepi
Sungai  Musi  dekat  pantai,  maka  perdagangan  menjadi
cepat  berkembang.  Perdagangan  kemudian  menjadi  mata
pencaharian  pokok.  Perkembangan  perdagangan  didukung
oleh  keadaan  dan  letak  Sriwijaya  yang  strategis.  Sriwijaya
terletak  di  persimpangan  jalan  perdagangan  internasional.
Para  pedagang Cina  yang  akan  ke  India  singgah  dahulu  di
Sriwijaya, begitu juga para pedagang dan India yang akan ke
Cina. Di  Sriwijaya  para  pedagang melakukan  bongkarmuat
barang dagangan. Dengan demikian, Sriwijaya semakin ramai
dan berkembang menjadi pusat perdagangan. Sriwijaya mulai
menguasai  perdagangan  nasional  maupun  internasional  di
kawasan  perairan  Asia  Tenggara.  Perairan  di  Laut  Natuna,
Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut  Jawa berada di bawah
kekuasaan Sriwijaya.
Tampilnya  Sriwijaya  sebagai  pusat  perdagangan,
memberikan kemakmuran bagi rakyat dan negara Sriwijaya.
Kapal-kapal  yang  singgah  dan  melakukan  bongkarmuat,
harus  membayar  pajak.  Dalam  kegiatan  perdagangan,
Sriwijaya  mengekspor  gading,  kulit,  dan  beberapa  jenis
binatang liar, sedangkan barang impornya antara lain beras,
rempah-rempah, kayu manis, kemenyan, emas, gading, dan
binatang.
Perkembangan tersebut telah memperkuat kedudukan
Sriwijaya sebagai kerajaan maritim. Kerajaan maritim adalah
kerajaan yang mengandalkan perekonomiannya dari kegiatan
perdagangan  dan  hasil-hasil  laut.  Untuk  memperkuat
kedudukannya, Sriwijaya membentuk armada angkatan  laut
yang kuat. Melalui armada angkatan laut yang kuat Sriwijaya
mampu mengawasi perairan di Nusantara. Hal  ini  sekaligus
merupakan  jaminan  keamanan  bagi  para  pedagang  yang
ingin berdagang dan berlayar di wilayah perairan Sriwijaya. Dalam  kaitannya  dengan  perkembangan  agama  dan
kebudayaan  Buddha,  di  Sriwijaya  ditemukan  beberapa
peninggalan. Misalnya, Candi Muara Takus, yang ditemukan dekat  Sungai  Kampar  di  daerah  Riau.  Kemudian  di  daerah
Bukit  Siguntang ditemukan  arca Buddha.  Pada  tahun 1006
Sriwijaya juga telah membangun wihara sebagai tempat suci
agama  Buddha  di  Nagipattana,  India  Selatan.  Hubungan
Sriwijaya dengan India Selatan waktu itu sangat erat.
  Bangunan lain yang sangat penting adalah Biaro Bahal
yang  ada  di  Padang  Lawas,  Tapanuli  Selatan. Di  tempat  ini
pula terdapat bangunan wihara.
  Kerajaan Sriwijaya akhirnya     mengalami kemunduran
karena beberapa hal antara lain :
a.  Keadaan sekitar Sriwijaya berubah, tidak lagi dekat dengan
pantai. Hal  ini disebabkan aliran Sungai Musi, Ogan, dan
Komering banyak membawa lumpur. Akibatnya. Sriwijaya
tidak baik untuk perdagangan.
b.  Banyak daerah kekuasaan Sriwijaya yang melepaskan diri.
Hal ini disebabkan terutama karena melemahnya angkatan
laut Sriwijaya, sehingga pengawasan semakin sulit.
c.  Dari  segi  politik,  beberapa  kali
Sriwijaya  mendapat  serangan  dari
kerajaan-kerajaan  lain.  Tahun  1017
M  Sriwijaya  mendapat  serangan  dari
Raja  Rajendracola  dari  Colamandala,
namun  Sriwijaya  masih  dapat
bertahan.  Tahun  1025  serangan  itu
diulangi,  sehingga  Raja  Sriwijaya,  Sri
Sanggramawi jayat tunggawarman
ditahan  oleh  pihak  Kerajaan
Colamandala.  Tahun  1275,  Raja
Kertanegara  dari  Singhasari melakukan
Ekspedisi Pamalayu. Hal itu menyebabkan
daerah Melayu  lepas.  Tahun 1377  armada  angkatan  laut
Majapahit  menyerang  Sriwijaya  Serangan  ini  mengakhiri
riwayat Kerajaan Sriwijaya.

5.  Kerajaan Mataram Kuno

Pada pertengahan abad ke-8 di  Jawa bagian  tengah berdiri
sebuah kerajaan baru. Kerajaan itu kita kenal dengan nama Kerajaan
Mataram Kuno. Mengenai letak dan pusat Kerajaan Mataram Kuno
tepatnya  belum  dapat  dipastikan.  Ada  yang menyebutkan  pusat
kerajaan di Medang dan  terletak di Poh Pitu. Sementara  itu  letak
Poh Pitu sampai sekarang belum jelas. Keberadaan lokasi kerajaan
itu dapat diterangkan berada di sekeliling pegunungan, dan sungai-
sungai.  Di  sebelah  utara  terdapat  Gunung  Merapi,  Merbabu,
Sumbing,  dan  Sindoro;  di  sebelah  barat  terdapat  Pegunungan
Serayu; di  sebelah  timur  terdapat Gunung  Lawu,  serta di  sebelah
selatan berdekatan dengan Laut Selatan dan Pegunungan Seribu.
Sungai-sungai yang ada, misalnya Sungai Bogowonto, Elo, Progo,
Opak, dan Bengawan Solo. Letak Poh Pitu mungkin di antara Kedu
sampai sekitar Prambanan.
  Untuk mengetahui perkembangan Kerajaan Mataram Kuno
dapat  digunakan  sumber  yang  berupa  prasasti.  Ada  beberapa
prasasti yang berkaitan dengan Kerajaan Mataram Kuno diantaranya
Prasasti Canggal, Prasasti Kalasan, Prasasti Klura, Prasasti Kedu atau
Prasasti  Balitung. Di  samping  beberapa  prasasti  tersebut,  sumber
sejarah  untuk  Kerajaan  Mataram  Kuno  juga  berasal  dari  berita
Cina.
Perkembangan Pemerintahan
  Sebelum Sanjaya berkuasa di Mataram Kuno, di  Jawa
sudah  berkuasa  seorang  raja  bernama  Sanna.  Menurut
prasasti Canggal  yang berangka  tahun 732 M, diterangkan
bahwa Raja Sanna telah digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya
adalah putra Sanaha, saudara perempuan dari Sanna.
  Dalam  Prasasti  Sojomerto  yang  ditemukan  di  Desa
Sojomerto,  Kabupaten  Batang,  disebut  nama  Dapunta
Syailendra  yang  beragama  Syiwa  (Hindu).  Diperkirakan
Dapunta  Syailendra  berasal  dari  Sriwijaya  dan menurunkan
Dinasti Syailendra yang berkuasa di Jawa bagian tengah. Dalam
hal  ini  Dapunta  Syailendra  diperkirakan  yang  menurunkan
Sanna, sebagai raja di Jawa.
  Sanjaya  tampil  memerintah  Kerajaan  Mataram  Kuno
pada  tahun 717  - 780 M.  Ia melanjutkan kekuasaan Sanna.
Sanjaya  kemudian melakukan  penaklukan  terhadap  raja-raja
kecil bekas bawahan Sanna yang melepaskan diri. Setelah itu,
pada  tahun  732 M  Raja  Sanjaya mendirikan  bangunan  suci
sebagai  tempat  pemujaan.  Bangunan  ini  berupa  lingga  dan
berada  di  atas  Gunung Wukir  (Bukit  Stirangga).  Bangunan
suci  itu  merupakan  lambang  keberhasilan  Sanjaya  dalam
menaklukkan raja-raja lain.
  Raja Sanjaya bersikap arif, adil dalam memerintah, dan
memiliki pengetahuan luas. Para pujangga dan rakyat hormat
kepada rajanya. Oleh karena itu, di bawah pemerintahan Raja
Sanjaya, kerajaan menjadi aman dan tenteram. Rakyat hidup
makmur. Mata pencaharian penting adalah pertanian dengan
hasil  utama  padi.  Sanjaya  juga  dikenal  sebagai  raja  yang
paham akan isi kitab-kitab suci. Bangunan suci dibangun oleh
Sanjaya untuk pemujaan lingga di atas Gunung Wukir, sebagai
lambang  telah  ditakhlukkannya  raja-raja  kecil  di  sekitarnya
yang dulu mengakui kemaharajaan Sanna.
  Setelah Raja Sanjaya wafat, ia digantikan oleh putranya
bernama Rakai Panangkaran. Panangkaran mendukung adanya
perkembangan  agama Buddha. Dalam  Prasasti Kalasan  yang
berangka  tahun  778,  Raja  Panangkaran  telah  memberikan
hadiah tanah dan memerintahkan membangun sebuah candi
untuk Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta agama
Buddha.  Tanah  dan  bangunan  tersebut  terletak  di  Kalasan.
Prasasti Kalasan  juga menerangkan bahwa Raja Panangkaran
disebut dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana
Rakai Panangkaran. Raja Panangkaran kemudian memindahkan
pusat pemerintahannya ke arah timur. Raja  Panangkaran  dikenal  sebagai
penakluk yang gagah berani bagi musuh-
musuh  kerajaan.  Daerahnya  bertambah
luas.  Ia  juga  disebut  sebagai  permata
dari  Dinasti  Syailendra.  Agama  Buddha
Mahayana waktu  itu berkembang pesat.
Ia  juga  memerintahkan  didirikannya
bangunan-bangunan  suci.  Misalnya,
candi Kalasan dan arca Manjusri.
Setelah  kekuasaan  Penangkaran
berakhir,  timbul  persoalan  dalam
keluarga  Syailendra,  karena  adanya
perpecahan  antara  anggota  keluarga
yang sudah memeluk agama Buddha dengan keluarga yang
masih memeluk  agama Hindu  (Syiwa).Hal  ini menimbulkan
perpecahan di dalam pemerintahan Kerajaan Mataram Kuno.
Satu  pemerintahan dipimpin oleh tokoh-tokoh kerabat istana
yang menganut agama Hindu berkuasa di daerah Jawa bagian
utara. Kemudian keluarga yang terdiri atas tokoh-tokoh yang
beragama Buddha berkuasa di daerah  Jawa bagian  selatan.
Keluarga  Syailendra  yang  beragama  Hindu  meninggalkan
bangunan-bangunan  candi di  Jawa bagian utara. Misalnya,
candi-candi  kompleks  Pegunungan  Dieng  (Candi  Dieng)
dan kompleks Candi Gedongsongo. Kompleks Candi Dieng
memakai  nama-nama  tokoh  wayang  seperti  Candi  Bima,
Puntadewa, Arjuna, dan Semar.
  Sementara  yang  beragama  Buddha
meninggalkan  candi-candi  seperti  Candi
Ngawen, Mendut,  Pawon  dan  Borobudur.
Candi  Borobudur  diperkirakan  mulai
dibangun  oleh  Samaratungga  pada  tahun
824 M. Pembangunan kemudian dilanjutkan
pada zaman Pramudawardani dan Pikatan.

Sekian Post dari D.H.S semoga bermanfaat.......



{ 1 Komentar... read them below or add one }

- Copyright © HENDRA BLOG - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -