Tuesday, 10 March 2015

Contoh Teks Ulasan Berjudul "Tanah Surga Katanya"

Kali ini Saya akan berbagi Contoh Teks Ulasan dari film yang pernah Saya tonton yang berjudul "Tanah Surga Katanya" langsung saja kebahasannya...

“Tanah Surga Katanya”

            Sebuah film yang berceritakan seorang warga negara Indonesia yang cinta terhadap tanah air Indonesia  ini mengadung pesan moral yang amat tinggi yang akhir-akhir ini sering terabaikan. Film ini berjudul “Tanah Surga Katanya” , dapat dilihat dari judulnya film ini merupakan sebuah sindiran halus pada pemerintah Indonesia dari daerah perbatasan negara Kalimantan Barat.
            Salah satu tokoh dalam film ini adalah seorang pahlawan RI yang pernah berjuang merebutkan kemerdekaan Indonesia. Maka dari itu beliau sangat cinta terhadap bangsa Indonesia. Beliau diwakili oleh tokoh yang bernama Hasyim, beliau adalah kakek dari Salman dan Salina. Salman dan Salina adalah kakak beradik yang tinggal dengan kakeknya diperbatasan negara Indonesia dengan Malaysia tepatnya di Kalimantan Barat, ibu dan neneknya yang sudah meninggal dan ayahnya yang merantau di negeri tetangga untuk mencari kesejahteraan hidup.
             Dalam film “Tanah Surga Katanya” sikap moral yang disarankan kepada penonton adalah bersyukur. Warga Indonesia yang telah berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan Indonesia ini yang tinggal di perbatasan negara Indonesia dengan Malaysia kehidupan sehari-harinya sangatlah terbatas, sedangkan para pejabat negara yang menikmati fasilitas serba mewah dari negara jusru malah menyalahgunakan kewajibannya. Tak hanya sarana pendidikan saja akan tetapi sarana jaminan kesehatan pun masih sangat minim, dengan di tambah rumah sakit yang jauh dari kampung. Jika ingin pergi berobat atau merujuk ke rumah sakit harus melalui perjalanan yang sangat jauh dan sarana transportasi juga sangat sulit bilapun ada ongkos transportasinya akan sangat mahal.
            Layaknya dongeng anak dalam majalah, film “Tanah Surga Katanya” menyampaikan ajaran moral pada anak-anak untuk bangga dan cinta kepada negaranya sendiri. Terlihat saat saat Ibu Astuti satu-satunya guru yang mengajar di daerah tersebut, ketika beliau menanyakan PR nya menggambar bendera merah putih pada anak didiknya kelas 3 SD, hasilnya sangat mengejutkan. Setelah semua PR mereka angkat hampir semua salah dalam mengambar bendera merah putih, akan tetapi hanya ada satu anak yang dapat menggambar bentuk dan warna bendera merah putih yang benar, siswa itu bernama Salina.  Salina ialah adik dari Salman yang merupakan siswa pintar di kelas 4 dibandingkan dengan teman-temannya yang lain. Kedua anak itu ialah cucu dari Kakek Hasyim. Tiap malam Kakek Hasyim mendampingi kedua cucunya belajar, tak hanya mendampingi saja akan tetapi setiap malam pula sang kakek selalu menceritakaan pengalamannya pada saat melawan penjajah dan tentang seputar tanah Indonesia. Kejadian yang lebih mengejutkan dari siswa-siswi di sana ialah tak hanya mereka tidak mengetahui bendera merah putih saja, pada saat Ibu Guru Astuti pergi ke Kota ada keperluan, sekolah di ajar dengan seorang dokter baru di tempat itu yang biasa dipanggil Dokter Intel, pada saat Dokter Intel menyuruh anak-anak kelas 3 dan 4 menyanyikan lagi kebangsaan Indonesia, mereka malah menyanyikan lagu Kolam Susu.
            Jauh lebih mengenaskan lagi, warga disana adalah warga negara Indonesia akan tetapi mata uang yang digunakan disana ialah mata uang negara Malaysia yaitu ringgit dan bahasa yang mereka gunakan dalam kehidupan sehari-hari pun bahasa Melayu. Ini terlihat saat Pak Dokter baru datang ke kampung itu dan dia memberikan upah kepada salah satu anak kampung itu karena dia telah membantu membawakan barang-barangnya dari kapal ke rumah Kepala Dusun. Pak Dokter baru tersebut memberikan uang kepada anak tersebut sebesar Rp.50.000 akan tetapi anak itu malah kaget dan bertanya “uang macam ini? Saya tak pernah melihat uang macam ini.” Ini dikarenakan hampir seluruh warga disana mencari uang di negeri tetangga yang lebih dekat dan lebih mudah. Digambarkan di film ini perbatasan negara Indonesia dengan Malaysia hanya berbatasan jalan tanah dan jalan aspal. Jalan tanah berarti mulai masuk Indonesia dan jalan aspal bertanda bahwa telah masuk wilayah Malaysia.
            Tekanan batin sang kakek yang cinta akan negara Indonesia ini terlihat saat anak Kakek Hasyim yang bernama Haris atau ayah dari Salman dan Salina berkerja di negara tetangga yaitu negara Malaysia, suatu ketika setelah 1 tahun di sana dia pun kembali ke kampung halamannya. Kepulangannya tersebut tidak lain ialah bertujuan untuk mengajak ayahnya dan kedua anaknya untuk pindah dari kampung halamannya dan tinggal menetap di Malaysia menjadi warga negara Malaysia secara sah. Alasan Haris mengajak Kakek Hasyim dan kedua anaknya untuk pindah dan tinggal menetap di Malaysia ialah di negara Malaysia sana dia merasa kebutuhan hidupnya lebih tercukupi dan lebih sejahtera, tak hanya itu ternyata Haris sudah menikah lagi dengan wanita Malaysia. Kakek Hasyim terus menolak ajakan anaknya tersebut dikarenakan alasannya yaitu kakek telah berjuang dari jaman dahulu untuk mengabdi kepada negara ini merebutkan sebuah kemerdekaan, sehingga Kakek Hasyim tidak mau meninggalakan tanah air yang sudah ia susah payah pertahankan. Akhirnya Haris hanya membawa anak perempuannya saja untuk berpindah ke Malaysia, karena ayahnya tidak mau ikut berpindah ke Malaysia dan Salman lebih memilih tinggal dengan kakeknya di kampung.
            Sebuah sindiran halus kepada pejabat yang waktu itu datang mengunjungi kampung ini pun terjadi dari puisi yang dibacakan oleh Salman saat dipertunjukan penyambutan pejabat yang sedang mengunjungi kampung tersebut. Nampak secara tiba-tiba muka pejabat ini manjadi kesal karena mendengarkan puisi yang dibacakan oleh Salman yang berjudul “Tanah Surga Katanya”, didalam puisi tersebut ia membawa nama kakeknya dengan kalimat “...tapi kata kakekku...”.
            Tak hanya tekanan batin saja yang tergambarkan di sini akan tetapi tekanan ekonomi terjadi pula pada keluarga Kakek Hasyim. Kehidupan kakek dan Salman dikampung yang serba minim sedangkan ayah Salman yang berkecukupan di negara tentangga. Pada saat penyakit kakek semakin parah dan harus dibawa ke rumah sakit pun terkendala biaya. Ini menyebabkan Salman selain ia bersekolah ia juga berkerja mengantarkan barang dagangan ke pasar negara tetangga tersebut untuk mendapatkan uang guna membiayai berobat kakeknya. Pasarnya tidak jauh dari kampung itu, karena hanya cukup dengan jalan kaki melewati perbatasan darat yang hanya digambarkan perbedaan jalan tanah dan aspal, maka akan sampailah ke pasar. Pada saat mencari uang ke pasar Malaysia terdekat Salman bertemu dengan ayahnya dan Salina.
            Sebuah pesan moral yang amat dalam tercipta dalam film ini yaitu saat Salman mengantarkan dangannya ke pasar Malaysia terdekat ia melihat kain merah putih yang digunakan untuk kain pembungkus dagangan oleh salah seorang pedagang di pasar tersebut. Dia tidak tahan melihat sang saka merah putih diperlakukan semacam itu. Saat dia telah membeli 2 sarung yang niatnya akan di berikan untuk kakeknya, akhirnya dengan melihat hal semacam itu Salman memberikan salah satu sarung tersebut kepada pedangan tersebut untuk di tukarkan dengan kain merah putih. Dan akhirnya Salman pulang ke kampungnya dengan membawa bendera marah putih yang ia kibarkan sambil dibawanya berlari pulang.
            Cerita penutup yang begitu menyentuh hati. Cerita ini diakhiri ketika penyakit kakek Hasyim pada saat itu sampai puncak keparahannya,dan Dokter Intel pun menyarankan kakek untuk dibawa ke rumah sakit. Dan disaat inilah Salman memberikan uang yang telah ia dapat dan kumpulkan dari hasil kerjanya ia berikan kepada Dokter Intel dan Bu Astuti untuk membawa Kakek Hasyim ke kota untuk dirawat di sana. Keesokan harinya pun kakek Hasyim, Salman, Dokter Intel, dan Bu Astuti pergi ke kota terdekat untuk membawa Kakek Hasyim ke rumah sakit dengan menggunakan perahu tradisonal. Perjalanan yang amat panjang ini menyebabkan Kakek Hasyim tidak tertolong. Kakek Hasyim meninggal dalam perjalanan. Dan saat itu pula justru Haris sedang asik memeriahkan kemenangan sepak bola Malaysia atas kekalahan Indonesia.
Peristiwa bertemu Salman dengan Salina dan ayah saat dia pergi ke pasar  untuk mengantar dagangan tersebut terlihat sangatlah mudah sekali. Ini tidak wajar dalam kehidupan dunia nyata. Salman yang tidak tau Malaysia, hanya dengan asal jalan dia bertemu dengan adik dan ayahnya. Dimana seharus orang pembantu yang menemukankan ayah dan anaknya ini. Dan tidak masuk akal Salman seorang anak yang duduk di kelas 4 SD bisa hafal jalan pulang yang baru ia temukan sekali itu, itu pun hanya asal dia berjalan untuk menemui rumah ayahnya yang ada di Malaysia.
                Penggambaran kecintaan pada tanah air yang sangat bagus dan menyampaikan pesan moral yang sangat dalam. Film musikal yang bercerita cinta tanah air dengan iringi lagu kebangsaan saat terjadi peristiwa yang luar biasa, menambah nilai postif dalam penyampaian pesan di film “Tanah Surga Katanya”.
                    Dalam cerita film “Tanah Surga Katanya” dapat kita ambil kesimpulan bahwa negara Indonesia ini sangatlah luas. Untuk mencapai kata makmur dan sejahtera untuk seluruh Indonesia ini sangatlah sulit, dibutuhkan kerja yang ekstra dari seluruh warga negara. Rasa cinta tanah air perlu ditanamkan sejak dini karena dengan menanamkan rasa cinta tanah air sejak dini generasi muda akan terbiasa dengan cinta terhadap tanah airnya. Apalagi ditengah zaman globalisai semacam ini jika tidak ditanamkan rasa cinta tanah air sejak dini maka hancurlah negeri ini dan kembali dijajah lagi.
Sekian & Terima Kasih Semoga bisa bermanfaat bagi Sobat...


1 Komentar: